Monday, April 22, 2013

Pertamina Foundation Bantu SSB Limalas Sorong

HARI sudah sore, ketika puluhan bocah menyerbu masuk ke sebuah lahan kosong di sisi depan Pelabuhan Feri Rakyat, Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (18/4/13).

Lahan kosong ini adalah tempat berlatih sepakbola siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) Limalas, Sorong. Jumlahnya sekitar 200 anak. Mereka berlatih setiap sore, mulai pukul setengah empat hingga pukul enam. Limalas sendiri adalah nama sebuah pulau di Kepulauan Raja Ampat.


Lahan kosong ini berpasir putih, nyaris tanpa rumput. Anehnya, meski dijadikan lapangan sepakbola, tapi tak ada tiang gawang apalagi garis pinggir lapangan. Padahal dilapangan ini, pemain sekaliber Boaz Salossa maupun Titus Bonai pernah bermain.

Meski dengan kondisi seperti itu, para siswa SSB Limalas yang berusia 9 hingga 17 tahun tetap semangat berlatih. Tak mengenal panas maupun hujan.

Tak semuanya memakai sepatu bola, tak sedikit menggunakan sepatu kets atau sepatu sekolah. Tak hanya pria, siswa SSB limalas juga ada perempuan, mereka masuk kategori galanita, jumlahnya ada 40-an anak.

Ada dua pria setengah baya yang memberikan instruksi. Keduanya adalah Kelly Wutoy (35) dan Joppi Omkarsba (43). Kelly menjabat sebagai pelatih sedangkan Joppi pelatih sekaligus manager. Keduanya adalah PNS Pemkot Sorong.

Dua warga asli Sorong inilah yang mencetuskan sekolah bola ini. Motivasinya, selain karena keduanya adalah penggila bola, mereka bercita-cita kelak ada pemain yang berasal dari Sorong yang bermain untuk Timnas Indonesia.

Awalnya SSB ini adalah klub yang kepengurusannya di bentuk tahun 2004 lalu. "Awalnya yang mau bergabung cuma 25 orang. Lapangannya juga bukan disini melainkan dibandara. Jadi jika ada pesawat mau landing atau take off kita menyingkir dulu, setelah itu main lagi," cerita Joppi, staf di Bappeda Sorong.

Lahan kosong yang mereka tempati milik Pemda Sorong dan masuk area pelabuhan. Di sorong tak ada pengurus cabang PSSI. Pengurus KONI juga tak jelas.

"Siapa lagi yang mau lihat anak Papua kalau bukan kami. Padahal minat bola mereka besar tapi tidak tertangani dengan baik," ujar sarjana Institut Sains Teknologi Indonesia, Bandung ini.

Keduanya sadar bakat alam saja tidak cukup, tapi perlu ada manajemen dan pembinaan yang teratur.
Joppi menceritakan bagaimana susahnya membeli sepatu bola bagi siswa-siswi SSB yang dia bina.

Umumnya, mereka adalah anak buruh pelabuhan atau nelayan setempat. Mereka tak semuanya berdarah Papua. Ada juga anak suku Bugis-Makassar dan Jawa.
Mereka masuk SSB tanpa pungatan biaya serupiah pun.
"Jangankan membayar, membeli sepatu bola saja susah. Bahkan kostum yang mereka kenakan patungan antara manejer dan pelatih," ujar Kelly.

Bukan tanpa hasil, siswa binaan SSB ini sudah ada yang memperkuat klub sepakbola di kompetisi lokal maupun nasional. Mereka ada yang bermain seperti di Persiram Raja Ampat, Persifak Fak-Fak dan beberapa klub lainnya.

Bahkan salah satu siswanya, Ocel Omkarsba yang merupakan putra Joppi pernah ikut seleksi AC Milan junior dan sekarang ini sudah masuk di sekolah sepakbola Pertamina Jakarta. Melihat kenyataan itu, anak-anak sorong semakin termotivasi.

Direktur PT Pertamina, Karen Agustiawan dijadwalkan melihat langsung latihan anak-anak negeri ini, Jumat (19/4/13) hari ini.

Ditemani sejumlah pimpinan Pertamina, dirut perempuan pertama di Pertamina ini akan menyerahkan bantuan pembinaan di SSB Limalas melalui Pertamina Foundation. Bantuan itu berupa bola, sepatu, kostum, dan perlengkapan lainnya.

Joppi berharap kelak SSB Limalas bisa mendapatkan bantuan pelatih yang memiliki lisensi nasional. Selain itu, lapangan yang mereka gunakan saat ini tetap dipertahankan. Sebab berhembus isu bahwa Pemda akan membangun gedung di lapangan ini.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...