Sunday, May 19, 2013

Satu Bola untuk Satu Generasi

 


Sepenggal kutipan yang pernah dilontarkan Franklin D. Roosevelt di atas mungkin cocok untuk dihubungkan dengan kondisi yang terjadi saat ini di Indonesia, khususnya dalam bidang sepakbola. Performa Tim Nasional yang bak kehilangan taring dalam dua dekade terakhir, gesekan antar pendukung klub sepakbola yang seolah sudah menjadi hal yang wajar, hingga carut marutnya kepengurusan badan tertinggi sepakbola nasional. Secara kasat mata, masa depan sepakbola Indonesia seolah hanya tiang pancang proyek monument yang terlantar.

Tetapi permasalahan tersebut bukan untuk diratapi karena masih banyak orang yang menggantungkan masa depan pada sepakbola. Di tempat lain, masih ada yang giat berlatih agar bisa menjadi pemain profesional atau setidaknya memiliki kesempatan membela negara dengan atribut Garuda di atas medan perang berukuran 120 x 90 m. Kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dengan sepakbola. Bagi mereka sepakbola adalah impian. Sepakbola adalah harapan hidup.
Mungkin timbul pertanyaan, apa yang bisa kita lakukan untuk bisa menjaga agar lilin harapan mereka tetap menyala?
BIGREDS IOLSC bisa sedikit berbangga dengan ide yang sederhana namun penuh makna. Lahir dari buah pemikiran salah seorang membernya untuk mendonasikan seribu rupiah dari setiap gol yang dicetak oleh setiap pemain Liverpool FC ketika berlaga, ide ini kemudian berkembang menjadi suatu program yang diberi nama One Goal One Thousand (program ini telah diulas di majalah Walk On edisi 4). Melalui kebijakan pengurusnya, pemanfaatan dana yang terkumpul kemudian diarahkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan sepakbola anak-anak di Indonesia. Kebijakan yang tepat untuk ikut membangun generasi muda.
Selaras dengan kebijakan yang telah dicanangkan pengurus pusat, pada hari Minggu tanggal 21 April 2013 BIGREDS IOLSC Regional Malang melakukan realisasi dari program tersebut. Bertempat di desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kota Batu, telah disalurkan sejumlah bola untuk 6 Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di wilayah kecamatan Pujon. Pemberian bola disesuaikan dengan kebutuhan SSB untuk lebih memaksimalkan latihan dasar seperti passing, control, dan dribble bagi anak-anak di kecamatan Pujon. Ke enam SSB yang menerima donasi bola tersebut adalah SSB GMC Ngroto Pujon, SSB Yong Seb Sebaluh, SSB Lebaksari, SSB Lebo, SSB Ngabab, dan SSB Manting.
Niat untuk merealisasikan program ini sempat beberapa kali tertunda dikarenakan butuh beberapa pertimbangan mengenai lokasi kegiatan agar lebih tepat sasaran. Dari beberapa kali koordinasi, pengurus regional Malang sepakat untuk menyasar lokasi di daerah-daerah dibandingkan di dalam kota Malang sendiri.
Kecamatan Pujon pun menjadi pilihan karena di daerah ini rutin mengadakan kompetisi untuk tiap jenjang usia. Tak jarang dari kompetisi usia muda ini memunculkan bakat-bakat yang berlanjut ke tingkat kompetisi yang lebih tinggi. Sebut saja kompetisi antar klub sepakbola Batu yang diwadahi pengcab PSSI kota Batu yang pada tahun 2013 dihelat dalam tiga divisi. Berdasarkan cerita dari Sigit, salah seorang member BIGREDS, bahkan untuk kompetisi divisi dua pun kompetisi sudah memakai peraturan FIFA dan persaingannya sangat ketat.
Bertempat di lapangan latihan SSB GMC Pujon, penyerahan donasi berupa bola untuk keperluan latihan pun diberikan secara simbolis kepada salah satu perwakilan pengurus SSB yaitu pak Yudi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertandingan sepakbola eksibisi antara BIGREDS Malang melawan gabungan jajaran pengurus, pelatih SSB, dan pemain U-23 di kecamatan Pujon.
Bermain melawan para ‘pemain veteran’, tim BIGREDS Malang seperti sedang diajarkan bagaimana memainkan sepakbola. Penguasaan bola lebih didominasi oleh tim Pujon. Barisan belakang tim BIGREDS Malang harus bekerja ekstra keras mengamankan serbuan lawan ke kotak penalti.
Namun demikian, gol pembuka justru dicetak oleh pemain tim BIGREDS Malang. Melalui suatu serangan balik yang cepat, Erik berhasil lolos dari jebakan offside. Pantulan bola hasil umpang panjang kemudian diangkat dengan kaki bagian dalam melewati kepala kiper. Seakan tidak ingin kalah gengsi, tim Pujon bisa menyamakan kedudukan lewat tendangan keras pak Yudi dari dalam kotak penalti. Tapi selang beberapa menit kemudian, Sigit berhasil melewati hadangan kiper untuk menambah keunggulan BIGREDS Malang menjadi 2-1 sebelum babak pertama berakhir.
Waktu menunjukkan sekitar jam 1 siang ketika pertandingan babak kedua akan dimulai. Namun sejuknya cuaca pegunungan di daerah Pujon seakan membuat lupa bahwa matahari sedang berada tepat diatas kepala. Suguhan pemandangan alam dan perkebunan masyarakat di sekitar lapangan juga semakin menyegarkan siang hari yang sedikit mendung.
Tidak jauh berbeda dengan babak pertama, kendali permainan didikte oleh tim Pujon. Kombinasi umpan pendek di lapangan tengah dan umpang panjang ke sisi sayap menjadi pola pakem mereka.
Berawal dari serangan yang tertata dengan baik, salah seorang pemain berhasil memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti dan dengan tembakan terukur, bola bersarang di pojok kiri gawang BIGREDS Malang. Skor menjadi 2-2.
BIGREDS pun kembali unggul melalui gol indah Basori. Berhasil melewati dua pemain belakang tim Pujon, dari sisi kanan pertahanan lawan Basori berhasil melepaskan tembakan menggunakan kaki bagian luar. Bola pun melengkung dan masuk ke pojok kiri atas gawang lawan. Kembali tertinggal oleh tim yang berlaku sebagai tamu, tim Pujon semakin menggencarkan serangan.
Keasikan menyerang, tim Pujon justru kembali kecolongan. Dengan proses yang sama seperti gol pertama, Erik kembali menyarangkan gol. Kali ini dengan tembakan voli yang akurat. Bola sempat ditepis kiper lawan, tapi bola terlanjur deras dan meluncur ke dalam gawang. 4-2 untuk BIGREDS Malang. Lima menit menjelang peluit panjang, tim tuan rumah akhirnya berhasil memperkecil jarak skor menjadi 4-3 lewan tendangan keras dari luar kotak penalti.
Pertandingan eksibisi pun berakhir untuk keunggulan BIGREDS Malang. Tapi pertandingan untuk membangun generasi muda demi terciptanya masa depan sepakbola yang diharapkan bersama justru dimenangkan oleh tim gabungan SSB. Komitmen mereka untuk memajukan sepakbola mulai dari tingkat usia muda patut diacungi jempol. Meski tidak bisa melihat cara mereka melatih anak-anak Pujon bermain sepakbola, tapi dari permainan dan koordinasi yang mereka lakukan ketika menghadapi kami cukup menggambarkan bagaimana filosofi dasar permainan yang mereka anut.
Semoga donasi yang “hanya” hadir dalam wujud pemberian bola bisa sedikit membantu proses pembinaan pemain muda di daerah-daerah, sehingga lebih bermunculan lagi generasi penerus yang akan menorehkan prestasi bagi sepakbola Indonesia.
Umak Kadit Uklam Dewean.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...