Tuesday, June 4, 2013

Atep dari Menolak Pesantren, Sampai "Membelot" ke Persija

Foto: Dok: Okezone 

BANDUNG - Turun dari bus tim usai menjalani sesi latihan pagi, para pemain Persib Bandung langsung diserbu para bobotoh di depan mess Persib di Jalan Ahmad Yani. Sergio van Dijk, Mbida Messi, Nasser Al Sebai hingga Airlangga Sucipto sibuk meladeni permintaan foto para bobotoh.


Masuk ke dalam, teriakan anak-anak SMA menggema di tribun. Mereka tengah menyaksikan sebuah pertandingan antar SMA di kancah Liga Pendidikan Indonesia. Dari sisi lapangan, para pemain Persib terlihat cukup serius memantau pertandingan tersebut.

Dari beberapa pemain yang tengah santai menonton, sambil mengobrol di depan kamar mereka masing-masing, terlihat Atep Ahmad Rizal yang memang tengah menunggu kami dari tim bola.okezone.com dan okezone.tv untuk melakukan wawancara.

Mengenakan pakaian casual, t-shirt hitam di padu dengan jeans serta sepatu kets, Atep menyambut kami dengan senyuman. Kesan pertama, pria 27 tahun ini memiliki karakter pendiam dan tak banyak mengumbar senyum. Namun, setelah beberapa saat berbincang, barulah terlihat bahwa Atep adalah sosok yang cukup menyenangkan.

Dia bahkan tidak keberatan ketika kami memintanya mengganti t-shirt yang dipakainya untuk diganti dengan kostum kebesaran Persib Bandung. Dia juga tidak cemberut ketika kami membawanya wawancara di sudut pinggir lapangan yang cuacanya cukup panas, karena saat itu wawancara dilakukan sekira pukul 14:00 WIB.

Dari sini, Atep bercerita banyak tentang bagaimana awal kariernya di sepakbola. Mulai dari tekad kuatnya memilih sepakbola sebagai jalan hidup, pertentangan batin karena memilih menerima pinangan Persija, hingga melawan titah PSSI hingga berujung skorsing.

Atep mengaku mulai mengenal sepakbola saat usianya masih sangat dini. Faktor rumah yang dekat dengan lapangan sepakbola dan keluarga yang juga pemain sepakbola, mulai dari kakek hingga ayahnya, membuat Atep kecil akrab dengan sepakbola.

Meski keluarga cukup mendukung, namun Atep mengaku sempat diminta ayahnya untuk tidak menggeluti sepakbola, mengingat profesi atlet sepakbola yang kurang menjanjikan.

“Dulu saat keluar dari SMP, ayah saya menyuruh untuk masuk pesantren. Tapi, tidak tahu saya punya keyakinan tersendiri, saya tidak mau mengikuti keinginan orang tua dan saya mau sekolah sepakbola,” Atep mulai bercerita.

“Dari situ, ayah saya mengatakan mau sekolah sepakbola di mana? karena di Cianjur (kampung halaman) tidak ada sekolah sepakbola yang bagus. Kebetulan ada jalan, saya akhirnya masuk di UNI Persib (tim junior Persib) dan alhamdulillah keinginan saya itu dipenuhi dan karier saya terus menanjak,” sambung suami dari Lilis Yumaini tersebut.

Berposisi sebagai penyerang, Atep menunjukkan kualitasnya sebagai pemain dengan prospek cerah, di mana dia sukses membantu UNI memenangi Piala Soeratin. Dia bahkan mendapat panggilan langsung dari pelatih Timnas Indonesia kala itu, Peter White untuk ikut seleksi Timnas U-20 pada 2003. Atep bahkan menjadi satu-satunya pemain dari Jawa Barat yang dipanggil masuk Timnas U-20.

Namun, dalam perjalanannya di Timnas U-20 Atep mulai gerah dengan kebijakan PSSI yang melempar para punggawa U-20 ke tim Persiba Bantul dan bermain di divisi utama. Alhasil, Atep dan rekannya Bobby Satria memaksa untuk hengkang. Hal ini membuatnya diganjar sanksi skorsing tidak boleh bermain selama satu tahun.

Akan tetapi, nasib baik masih menaungi Atep di mana dirinya mendapat tawaran dari Persija Jakarta. Meski ada perdebatan karena dirinya menimba ilmu di Persib, namun Atep akhirnya menerima pinangan Persija pada 2004, meski dirinya tidak bisa bermain selama satu musim karena harus menjalani sanksi PSSI.

Atep mengaku sempat ada perdebatan batin, ketika memilih Persija sebagai pelabuhan kariernya, karena kedekatannya dengan Persib. “Sebagai seorang pemain yang besar di Jawa Barat, siapa sih yang tidak ingin memperkuat Persib. Saya memang, dari kecil juga sangat menginginkan bermain di Persib. Tapi, saya tunggu-tunggu tidak datang tawaran dari Persib. Justru tawaran datang dari Persija. Itu mungkin sudah risiko saya dan ambil keputusan itu,” kenang pria yang kini telah dikaruniai satu putri bernama Keisya Amira Gabriela tersebut.

Keputusannya ‘membelot’ ke Persija bisa dikatakan tidak sia-sia, karena di Persija kariernya cukup menanjak. Di sini dia mendapat banyak pelajaran dari para pemain senior Persija dan ikut merasakan ketatnya persaingan di papan atas ISL, bahkan sempat tampil di final Copa dan Liga Indonesia (2005), kendati gagal juara. Di Persija, Atep juga mendapatkan kesempatan memainkan debutnya di Timnas senior Indonesia.

Sebagai konsekuensi keputusannya memilih Persija, Atep mau tak mau terseret masuk dalam rivalitas abadi kedua kubu. Dia bahkan mengaku sampai takut datang ke Bandung karena cemas mendapat teror dari pendukung Persib, bobotoh. Sekalipun terpaksa ke Bandung, Atep mengaku tidak bisa menggunakan kendaraan dengan plat ‘B’.

Kini, setelah tiga musim memperkuat Persija, Atep akhirnya bisa merealisasikan cita-citanya bermain di Persib yang merekrutnya pada 2008. Tentu, kebanggaan dan motivasi lebih diusung Atep untuk memberikan kontribusi terbaik, meski hingga saat ini dia belum mampu membawa Maung Bandung jadi juara.

Namun, di musim ini Atep optimistis timnya bisa menuntaskan ambisi juara yang terakhir kali mereka raih pada 1994/1995 (era Liga Indonesia). Kehadiran sosok Djajang Nurjaman di kursi kepelatihan yang dinilainya cukup mengenal karakteristik Persib, dan rekrutan berkualitas macam Sergio van Dijk diyakininya bakal mampu membawa Skuad Pangeran Biru kembali menjadi tim terbaik di tanah air.

Saat ini, Persib masih bersaing di papan atas klasemen sementara (peringkat empat), bersaing dengan Persipura, Arema Indonesia dan Sriwijaya FC merebut trofi tertinggi di Indonesia.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...