Tuesday, June 4, 2013

Peran SKO, PPLP, dan PPLPD Harus Dimaksimalkan

Tak terasa sudah 36 tahun Sekolah Olahraga (SKO) Ragunan berdiri. Sekolah yang didirikan tahun 1977 atas gagasan Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) ketika itu dan Mendiknas Sjarief Tayeb tidak sebatas sekolah, tetapi sekaligus media penempaan olahragawan pelajar berbakat nasional.
Mereka terpilih melewati tes superketat sehingga didapat olahragawan pelajar nasional berbakat unggul berkompetitor nasional dan mampu mengangkat nama bangsa dan negara di forum internasional. Sebut saja Icuk Sugiarto, Lius Pongoh, dan Susi Susanti (bulutangkis), Yayuk Basuki dan Tintus Aribowo (tenis), serta Ricky Yakobi, Bambang Pamungkas, dan Elly Eboy (sepak bola).
Belakangan ini, setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir, sejalan tantangan yang makin keras muncul Pusat Pembinan dan Latihan Pelajar (PPLP) yang dirintis sejak tahun 1984. Kalau Ragunan berpredikat kawah candradimuka olahragawan pelajar nasional, maka PPLP adalah penggodokan atlet pelajar berbakat, sekaligus salah satu kekuatan utama peningkatan prestasi olahraga daerah.
Kini, boleh dibilang SKO Ragunan dan PPLP tidak bisa memaksimalkan perannya. Hanya sedikit atlet yang muncul ke permukaan. Sebut saja cabang sepak bola. PPLP untuk cabang olahraga yang paling diminati masyarakat ini masih jauh dari harapan. Pada Kejurnas Sepakbola PPLP/PPLPD Se-Indonesia di Banda Aceh, 24-30 Mei lalu, kualitas atlet pelajar sangat minim.
Tim talent scouting beranggotakan dua pemain nasional, Ricky Yacobi, Risdianto, bersama dua pelatih asal Brasil, Carlos de Mello dan Pabio Olliviera (fisik), kesulitan memilih 30 pemain yang bakal mengikuti seleksi untuk memperkuat tim pelajar Asia yang akan bertarung di Bangkok, Thailand, Oktober mendatang.
Dari 12 peserta, hanya pemain tim PPLP Jateng dan PPLP Aceh yang mendominasi, selebihnya satu atau dua pemain yang dipilih dari PPLP lainnya.
Suatu langkah tepat diambil Raden Isnanta selaku Asisten Deputi Sentra Olahraga Kemenpora yang bertanggung jawab terhadap SKO Ragunan dan pelaksanaan PPLP di berbagai daerah menunjuk tim talent scouting dalam pemilihan pemain. Dengan demikian, pemain yang terpilih benar-benar yang terbaik dan jauh dari KKN.
Minimnya pemain berkualitas penghuni PPLP maupun SKO Ragunan sebenarnya tidak perlu terjadi bilamana pola yang diterapkan Isnanta dengan menunjuk tim talent scouting diberlakukan saat pembentukan PPLP di berbagai daerah.
"Ya, memang tak ada salahnya jika kita melibatkan tim talent scouting dalam pembentukan PPLP di berbagai daerah. Yang pasti, kita ingin memaksimalkan fungsi PPLP ke depan. Dengan menjadikan PPLP sebagai tempat atlet pelajar terbaik, saya yakin harapan membangun prestasi sepakbola akan terwujud," kata Isnanta.
Keberadaan SKO dan PPLP ini juga patut mendapat perhatian dari PSSI selaku induk organisasi. Tidak ada salahnya jika PSSI mengusulkan adanya kerja sama dengan Kemenpora membuat sebuah program membangun prestasi pemain usia muda yang ada di SKO, PPLP yang dibiayai melalui APBN, dan PPLPD yang dibiayai APBD melalui Dispora.

PSSI memang sudah saatnya melirik SKO, PPLP, dan PPLPD. Dan, tidak ada salahnya jika dalam Kongres PSSI di Surabaya, 16-18 Juni mendatang, program Kemenpora dan Dispora ini menjadi agenda pembahasan. Dengan demikian, PSSI bisa terlibat menjadikan SKO, PPLP, dan PPLPD tepat sasaran.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...