Monday, July 29, 2013

Belajar dari Scout Profesional dari Inggris di Coerver Summer Camp

thumbnail
Saya akan memberi kesempatan salah satu asisten pelatih saya di Akademi Malang FC yakni Zaya Mahardika untuk menuliskan pengalamannya saat berguru di Coerver Coaching Summer Camp di Bandung beberapa waktu lalu.

Saya selalu mendorong baik pelatih-pelatih kami di Akademi MFC maupun pelatih-pelatih peserta seminar saya di seluruh Indonesia untuk senantiasa menimba ilmu. Tidak pernah merasa cukup pintar untuk tidak terus belajar. Saat Anda berhenti belajar, Anda berhenti berkembang. Saat Anda berhenti berkembang Anda akan tertinggal.

Dari pengalaman dan ilmu yang diterima coach Zaya M, yang paling menarik buat saya adalah pandangan-pandangan para scout profesional Inggris yang hadir di sana, mengenai permasalahan utama pemain kita, apa yang dibutuhkan guna menjadi seorang pemain profesional. Yang juga tak kalah menarik adalah soal perbedaan antara pemain pro dan amatir di Inggris.

Coerver Coaching Bandung Summer Camp 2013

Event ini diadakan di musim liburan anak sekolah, yakni pada 4-6 Juli lalu, dengan menghadirkan Vice President of Coever Coaching Asia Pasific yaitu Jason Lancsar dari Australia, serta Andy Harris yang berprofesi sebagai scout (pemandu bakat) profesional dari Inggris.

Summer Camp tersebut bukan hanya diperuntukan kepada anak-anak segala umur, tapi juga pelatih-pelatih yang ingin menambah ilmu kepelatihannya. Setiap sesi latihan dipimpin langsung oleh Jason dan Andy, diikuti sekitar 60 anak-anak Coerver Coaching Bandung dan MBFA Jakarta. Bahasa tidak menjadi masalah karena setiap ucapan Jason dan Andy selalu diterjemahkan dengan baik oleh para pelatih dari Coerver Coaching Bandung.

Para pelatih juga diizinkan berada di lapangan untuk mengamati apa saja sesi latihan yang diberikan -- dan juga bertanya langsung. Antusiasme yang tinggi dari para peserta membuat keduanya terlihat sangat bersemangat memberikan ilmunya.

Setiap hari setelah latihan di lapangan, Jason dan Andy memberikan presentasi kepada para peserta di sebuah hotel, yang juga melibatkan para orangtua peserta. Meski keduanya sama-sama di bawah bendera Coerver Coaching, tetapi mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda tentang Coerver Coaching itu sendiri.

Seperti diketahui, metode Coerver Coaching adalah sebuah metode pelatihan sepakbola yang mengedepankan teknik individu. Jason berpandangan bahwa seorang anak bisa menjadi seorang pemain profesional hanya dengan menekuni metode Coerver Coaching. Adapun Andy berpendapat, seorang anak butuh bermain di klub ataupun sekolah sepakbola yang mengikuti banyak turnamen demi mengasah pengetahuan taktik dan mental. Perbedaan sudut pandang itu justru saling melengkapi dan para peserta mendapatkan banyak masukan dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Pada sesi tanya-jawab, pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah perbandingan antara pemain Indonesia dan pemain luar negeri khususnya Eropa. Tentu saja hal ini membuat kita orang Indonesia penasaran, apa sihyang membuat kita tidak bisa berada sejajar dengan pemain Eropa.

Mungkin pertanyaan tersebut terlalu luas untuk dijabarkan. Tetapi Andy yang notabene adalah seorang scout di Inggris, yang sudah melihat potensi-potensi dari pemain yang luar biasa, mempunyai jawabannya sendiri.

Setelah melihat beberapa hari permainan peserta Coerver Coaching Bandung, Andy mengungkapkan bahwa pemain di Indonesia buruk dalam menentukan pilihan, baik itu dalam passing, bergerak tanpa bola ataupun di mana harus menentukan posisi pada saat bertahan dan lain-lainnya. Intinya, Andy menjelaskan bahwa pemain-pemain di Eropa sudah mengetahui apa yang harus dilakukan pada saat berada di lapangan dan mereka mengerti mengapa melakukan hal tersebut (decision making).

Hal menarik lain yang dijelaskan Andy adalah soal perbedaan antara pemain yang berada di kasta Premier League, Championship, League One dan League Two. Jawabannya adalah konsistensi. Sebabnya, teknik individu dan faktor lain-lainya antara pemain Premier League, Championship, League One dan League Twosebenarnya tidak berbeda jauh. Hal ini bisa dilihat banyaknya kejutan yang terjadi di Piala Carling dan Piala FA.

Digambarkan Andy, jika pemain Premier League bermain 10 kali, mereka akan bermain bagus di 8 game, dan tampil buruk di dua game lainnya. Di kasta Championship, mereka memainkan 10 pertandingan dan akan bermain bagus hanya dalam 6 laga, sedangkan 4 lainnya buruk. Ini akan terus menurun seiring dengan level dari kasta liga tersebut.

Inti dari apa yang disampaikannya adalah seorang pemain harus mempunyai intelejensi yang tinggi untuk bermain bola, karena harus bisa menentukan pilihan yang tepat, tahu apa yang harus dilakukan dengan atau tanpa bola, dan yang tidak kalah penting adalah dibutuhkan konsistensi pada saat bermain dalam sebuah pertandingan. Hal ini berarti berhubungan dengan kosensentrasi penuh saat berada di lapangan.

Dari sisi Jason, ditekankan pentingnya mempelajari Ball Mastery setiap hari di rumah masing-masing. Karena menurutnya, semua masalah yang ada dalam permainan seorang pemain adalah penguasaan bola 100%, dan itu berhubungan dengan teknik Individu. Jason memberikan masukan kepada anak-anak untuk berlatih Ball Mastery 20 menit setiap harinya.


Pada hari terakhir Summer Camp 2013 dibuat sebuah acara penghargaan kepada anak-anak terbaik yang telah mengikut pelatihan singkat yang berlangsung tiga hari itu. Penilaian didasari pada sisi teknik dan perilaku anak tersebut selama berlatih. Hadiah yang disediakan antara lain sepatu Nike dan jersey Arsenal bertuliskan Kieran Gibbs, plus tanda tangan si pemain. Maklum, Andy Harris adalah bapak kandung bek kiri Arsenal itu.

Semoga tulisan oleh Zaya Mahardika di atas bermanfaat bagi Anda. Teruslah belajar, teruslah berlatih. Indonesia Bisa!

Salor.


===



* Tentang penulis lihat di sini
* Akun twitter: @coachtimo
* Website: www.coachtimo.org
* Foto-foto: Facebook Coerver Coaching Bandung

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...