Sunday, July 21, 2013

Geliat Supporter Bola, Berni Punya SSB Dan Klub Sendiri

tok-agus


Jember, Kabarejember.com.- Reputasi kelompok suporter sepakbola biasanya mengekor reputasi klub yang mereka dukung. Wajar saja, karena suporter terbentuk belakangan setelah klub berdiri. Pertumbuhan sebuah kelompok suporter sedikit-banyak berbanding lurus dengan prestasi klub yang didukung. Semakin menjulang prestasi klub, reputasi dan jumlah suporter akan semakin bertambah.

Namun dunia sepakbola selalu menghadirkan anomali. Reputasi kelompok suporter tak selamanya dibangun bersama dengan reputasi klub, bahkan bisa melampauinya. ”Dalam konteks ini, suporter menjadi bagian yang terpisah dari klub sepakbola yang didukung. Kelompok suporter adalah identitas tersendiri,” kata Ketua Umum Berni,  Agus Rizki.
“Di Indonesia, saya melihat anomali ini pada kelompok suporter Solo Pasoepati, kelompok suporter Jember Berni, kelompok suporter Surabaya Bonek, dan kelompok suporter Malang Aremania. Empat kelompok ini membangun reputasi dengan cara, keunikan, dan karakter masing-masing,” katanya.
Kelompok suporter termuda yang berpotensi membangun reputasi melebihi klub yang didukung adalah Jember Brani (Berni). Kelompok ini resmi berdiri 2011, yang merupakan reinkarnasi dari nama Gabungan Suporter Jember (Gangster) yang mendukung klub Persid Jember.
Nama Berni dipilih, tutur dia, setelah terjadi pertikaian internal di tubuh suporter Jember. Pertikaian yang dipicu perbedaan warna jersey Persid ini (biru dan kuning) sempat memakan korban: seorang suporter harus masuk rumah sakit karena dibacok sesama suporter dari kelompok yang berbeda.
“Kebetulan nama Berni mirip dengan nama George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia yang menjadi ‘Bapak Jember modern’. Orang Jember menyebut Birnie dengan sebutan ‘Tuan Berni’, yang dikenal dermawan dan suka membagikan roti kepada rakyat. Birnie pula yang membangun sejumlah perkebunan di Jember,” ulasnya.
Dipaparkan dia, bahwa prestasi Persid boleh dibilang jauh dari kata mentereng. Berdiri 20 Mei 1952, Persid baru merasakan gelar juara nasional Divisi II pada 2002 atau setengah abad setelah berdiri. Sebelum itu, klub ini hanya berkutat di divisi bawah. Saat ini prestasi Persid juga jeblok, dengan berada di posisi juru kunci Grup III Divisi Utama PT Liga Indonesia 2013.
Namun Berni tak terpengaruh dengan prestasi Persid. Kelompok suporter ini membangun reputasinya dengan cara yang unik: mendirikan klub sepakbola amatir dan sekolah sepakbola sendiri. Setahu saya, Berni adalah satu-satunya kelompok suporter di Indonesia yang memilikinya. Mayoritas kelompok suporter memilih berkonsentrasi menjadi pemain ke-12 di saat pertandingan.
Klub Berni Union kini berlaga di kompetisi resmi internal PSSI Kabupaten Jember. Sementara SSB didirikan melalui kerjasama dengan Brigade Infantri 9 Jember, dan dinamai Dharaka Berni. Tujuan Berni mendirikan klub dan SSB sederhana saja: ingin membina dan menyumbangkan pemain muda untuk Persid. ”Kami siap menggratiskan pemain kami untuk Persid,” kata  Agus Rizki.
Saat ini, beberapa pemain muda Berni Union sudah memperkuat Persid dan klub Divisi II Jember United. Sebagai sebuah eksperimen, apa yang dilakukan Berni bisa menjadi percontohan bagaimana suporter ikut memberikan sumbangsih nyata bagi klub sepakbola lokal.
Potensi suporter sepakbola jelas sangat besar. Namun, PSSI dan pemerintah masih memandang suporter dalam dua aspek: keuntungan pasar dan sumber keributan. Sayang sekali.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...