Sunday, July 7, 2013

Professor Sepak Bola Pilih Fokus Pembinaan Usia Dini

imageUSIA 62 bukan halanganDanurwindo untuk tetap terus berdiri di tengah lapangan. Walau teriknya panas matahari sangat terasa di Stadion Sriwedari, kemarin, dengan penuh kesabaran, pria kelahiran Kutoarjo 15 Mei 1951 itu memberikan instruksi kepada sejumlah pemain SSB (Sekolah Sepak Bola).

"Anak-anak itu masih suka bermain. Mereka itu bukan pelari, tapi pemain bola. Larinya itu ya dengan cara main bola. Jadi latihan fisik tetap boleh dilakukan asal porsinya tidak berat. Jangan disamakan saat kami latihan dahulu seperti cross country," jelas Danurwindo saat memberikan coaching clinic kepada pemain dan pelatih SSB se-Kota Solo, Kamis (27/6).
Menurut mantan pelatih tim nasional (Timnas) Primavera itu perkembangan sepak bola modern begitu cepat. Namun, hal itu tak banyak diketahui pelatih di Indonesia, terutama pelatih SSB. "Di Belanda, Inggris, Jerman, latihan fisik sudah dikombinasi dengan latihan membawa bola (pass move). Jadi mengumpan dengan bergerak," imbuhnya.
Kali terakhir, pria yang pensiun 1982 sebagai pemain saat berkostum Arseto Solo itu, memegang PPSM Kartika Nusantara, sebuah klub Divisi Utama Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) musim 2012-2013. Usai kontraknya tak diperpanjang klub yang bermarkas di Kota Magelang itu, Danurwindo lebih banyak fokus membenahi pembinaan para pemain-pemain muda.
"Fokus kepada youth development, yang saya tekankan pada pelatihan ini bagaimana soal teknik dan taktik diberikan dalam satu kesatuan," ungkapnya.
Kemarin, selama sehari, Danurwindo berada di Kota Solo. Coaching Clinic yang diberikannya tak terlepas dari undangan SSB Ksatria, salah satu SSB milik tokoh sepak bola Solo, almarhum Syamsul Halim Perdana.
"Saya mengakhiri status sebagai pemain dan memulai karir pelatih di klub ini karena ajakan Halim. Di tengah kesibukan, saya pasti menyempatkan datang kalau diundang SSB Ksatria," sambungnya.
Di kalangan orang-orang yang mengenalnya, Danurwindo merupakan sosok pelatih kenyang pengalaman. Maka tak heran, pria tersebut dijuluki profesor sepak bola karena ilmu kepelatihannya yang mumpuni. Namun, meski banyak tim juga pernah dilatihnya, tak satu pun yang menjadi juara.
"Dia pelatih cerdas namun sering tak beruntung saat memegang tim," tandas Mansyur Masinaga, rekan setim Danurwindo di Arseto Solo.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...