Saturday, July 12, 2014

Cara Brasil Mencetak Neymar Baru



TEMPO.CO, Rio de Jainero - Lapangan itu jauh dari ideal. Hanya berupa lapangan kecil berlantai semen. Ukurannya pun minim, hanya 4 x 8 meter. Sehari-hari fungsinya hanya sebagai lapangan futsal. Seperti lapangan futsal lain, di sekeliling lapangan itu ditutup dengan kawat agar bola tidak sering keluar.


Siang itu, Kamis pekan lalu, anak-anak yang rata-rata berumur 12 tahun itu berlatih dengan bersemangat. Padahal matahari sedang garang bersinar. Sudah beberapa hari ini Rio de Janeiro memang bertabur matahari. Padahal sebelumnya udara dingin masih terasa.

Di perkampungan Teixeira de Freitas di Rio de Janeiro, siang itu, angka jam di ponsel menunjukkan pukul 14.03, atau tepat tengah malam di Jakarta. Pantas saja panas. Tapi lebih dari 20 anak tetap berlatih.

Mereka yang berkulit putih, wajahnya langsung berona merah. Sedangkan wajah anak-anak berkulit hitam basah oleh keringat. Tapi, ya, itu tadi, kelelahan seperti enggan mendekati mereka.

Diawali dengan latihan fisik dan peregangan otot yang berlangsung selama 30 menit, latihan dilanjutkan dengan latihan melakukan dribbling, passing, dan shooting. Terakhir adalah bermain bersama. Mereka yang kebobolan dua gol lebih dulu diganti oleh tim yang terdiri atas lima pemain itu.

Tak semuanya berlatih dengan baik. Tapi mereka tetap senang. Satu harapan terpancar dari matanya. Menjadi pemain sepak bola profesional adalah keinginan yang disebutkan oleh hampir semua anak-anak itu. "Seperti Julio Cesar," kata Eules Fernando, si bocah gemuk yang ingin menjadi seperti kiper Selecao itu.

Anak-anak itu adalah muridsekolah sepak bola yang digagas dinas olahraga Rio de Janeiro. Pemerintah setempat memberi kesempatan kepada bekas pemain untuk menjadi pelatih dalam program itu. Joao Carlos, pemain yang pernah mengenakan kostum Arema Malang, adalah salah satu pelatih di sini.

Ihwal muridnya, tak ada batasan. Siapa pun boleh ikut di sini untuk berlatih selama dua kali dalam seminggu. "Rabu dan Kamis adalah jadwal latihan kami," kata Eules. Tak hanya itu, mereka pun mendapat kaus, celana, dan sepatu untuk berlatih. Itu sebabnya, yang datang bukan hanya Eules, tapi juga puluhan anak lain. Di antaranya Lucas Lopes dan Guilherme Gabriel.

Menghindari Jalanan

Tempat ini memang jauh dari sempurna untuk disebut sebagai lapangan sepak bola. Tapi mereka tetap senang. Paling tidak, mereka tak perlu meminta uang kepada orang tua. "Kalau di tempat saya sebelumnya, harus bayar 120 real per bulan," kata salah seorang dari mereka.

Sekolah sepak bola di Brasil tentu saja tak terhitung jumlahnya. Siapa pun boleh mendirikan sekolah seperti itu, asalkan syarat-syarat memberi pelatihan sepak bola yang baik terpenuhi.

Sedangkan sekolah sepak bola gratis alias tanpa pungutan bayaran juga bukanlah hal baru. Pada 1980-an, menurut warga di sana, mereka sudah lama mengenal sekolah sepak bola seperti itu. Tapi kala itu berbeda dengan yang terjadi sekarang.

Program ini digagas dalam setahun ini. Maksudnya banyak. Salah satunya untuk menjauhkan anak-anak--yang berusia remaja--dari pengaruh buruk tempat tinggal mereka. "Kalau mereka sibuk dengan sepak bola, kami beranggapan mereka akan terhindar dari pengaruh narkoba," kata Joao.

Namun mencetak pemain muda yang hebat juga menjadi tujuan. Soalnya, program ini bekerja sama dengan Sekolah Sepak Bola Zico 10. Tempat pelatihan sepak bola ini didirikan oleh bekas bintang Brasil, Zico, yang bersinar namanya dalam Piala Dunia 1982. Nama Zico10 pun tertera di kaus latihan mereka. 

Seperti yang diungkapkan Zico kepada Tempo, sejak menyatakan pensiun pada awal 1990-an, pembangunan sekolah sepak bola untuk anak-anak adalah prioritasnya. Terlibatnya Zico10 tentu ada maksudnya. "Nantinya, kalau ada pemain yang bagus dari program ini, akan diambil Zico untuk ditaruh di beberapa klub," kata Joao. Ibaratnya, mereka tengah mencetak pemain hebat layaknya Neymar, yang kini menjadi bintang di perhelatan Piala Dunia.

Joao pun menunjuk beberapa anak latihnya yang disebut memiliki bakat yang baik untuk menjadi pemain sepak bola. Dia menyebutkan semangat para siswanya tetap tinggi meski hanya fasilitas seadanya yang disediakan.

"Untuk sementara, kami memang berlatih di tempat ini. Nantinya, kami akan pindah di tempat yang lebih layak," katanya sambil menyebutkan sebuah tempat yang tak jauh dari lokasi latihan mereka saat ini. "Di sana, anak-anak pasti lebih bersemangat lagi. Lapangannya lebar dan luas," katanya.

Semangat memang yang menuntun mereka untuk menjemput impiannya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...