Tuesday, July 29, 2014

Rajawali Muda Terhenti di 64 Besar

Rajawali Muda Dapat Pelajaran Berharga


GOTHENBURG, KOMPAS Kiprah Rajawali Muda SKF Indonesia di turnamen Piala Gothia akhirnya terhenti pada babak 64 besar setelah menyerah 2-3 dari tim Perancis, Senilis USM, Kamis (17/7), di lapangan Harlanda, Gothenburg, Swedia.

Meski gagal mengulang prestasi tim Indonesia sebelumnya yang sukses melaju ke babak final, tim binaan Liga Kompas Gramedia-Panasonic U-14 ini mendapatkan pengalaman berharga, yakni bertanding melawan tim-tim Eropa. Hal lain yang bisa dipetik dari kekalahan itu adalah betapa pentingnya menjaga konsentrasi bermain.
Tim polesan duet pelatih Herlan Zulfikar dan Hadi Rachmadany ini sempat unggul terlebih dahulu lewat gol cepat yang dicetak Riski Fajar Saputra pada menit ke-3. Namun, mereka sedikit kehilangan konsentrasi sehingga lawan bisa berbalik membobol gawang Rajawali tiga gol.
Meski terus mengurung dan menguasai pertandingan, Rajawali Muda cuma bisa menambah satu gol lewat sang kapten Aria Bisma Bagaskara. Mereka kesulitan menembus pertahanan rapat lawan yang bermain bertahan total dengan menaruh delapan pemain di area pertahanan.
Para pemain tak kuasa menahan kesedihan saat wasit meniup peluit akhir babak kedua. Sebagian besar pemain tergeletak dan menangis di lapangan sambil menutup wajah. Sebagian lagi keluar lapangan dengan langkah gontai penuh penyesalan. Sejumlah warga Indonesia yang menjadi suporter setia sejak pertandingan awal penyisihan grup pun ikut bersedih. Namun, mereka bisa memahami kekalahan itu dan membantu memberi semangat para pemain Indonesia.
”Ini memang pahit. Akan tetapi, inilah pertandingan, harus ada yang menang dan kalah. Yang penting mereka sudah berjuang habis-habisan. Banyak pelajaran yang bisa anak-anak dapatkan dari pertandingan ini. Semuanya akan kami evaluasi,” kata Herlan seusai pertandingan.
Menurut Herlan, para pemain sudah menjalankan instruksi dan strategi yang dia inginkan, yakni menekan lawan sejak awal. Hasilnya didapat dengan gol cepat Riski. Walau para pemain lawan unggul postur, mereka kesulitan membendung umpan pendek dan cepat pemain Indonesia.
Gaya permainan ini sama dengan laga-laga sebelumnya pada babak penyisihan, terutama saat mengalahkan wakil Swedia, Orgryte IS, 3-0, dan wakil Norwegia, Lorenskog IF 1, 8-0. Sayang, para pemain sempat kehilangan konsentrasi saat melawan Senilis. ”Atas nama tim, saya minta maaf tidak bisa memenuhi target jadi juara atau setidaknya menyamai prestasi sebelumnya sampai pada babak final,” ucap Herlan.
Hal positif yang terlihat dari tim ini adalah kekompakan dan kekuatan mental mereka. Mereka juga percaya diri dan tidak takut menghadapi pemain-pemain Eropa yang rata-rata berpostur lebih tinggi dari mereka.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...