Sunday, November 30, 2014

Mantan "Wonderkid" Arsenal Bakal Bantu Sepak Bola Indonesia

Ryan Smith.
Jakarta - Ingat Ryan Smith? Wonderkid Arsenal awal 2000an yang pernah menembus skuad utama di usia 16 tahun? Gooners barangkali bertanya-tanya, di manakah dia sekarang?
Ryan sekarang berusia 28 tahun dan saat ini sedang berada di Indonesia. Jauh-jauh dari London ke Jakarta, tentu saja ada misi yang dibawa. Bersama Taff Rahman, mantan pelatih akademi Arsenal, dan pelatih fisik berlisensi UEFA Jo, Ryan berniat membantu perkembangan sepak bola Indonesia. Caranya dengan meningkatkan kualitas pelatih, khususnya pelatih usia muda.

Pemain bagus dicetak oleh pelatih bagus, tapi pelatih yang benar-benar bagus bisa mencetak pelatih bagus. Itulah pendapat Taff.
"Karena katakanlah satu pelatih bisa membentuk 10 pemain, tapi kalau dia membentuk 20 pelatih bagus maka efeknya akan kena ke 200 pemain," kata Taff kepada Beritasatu.com di Singapore International School Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (29/11).
Saat berbincang dengan beritasatu.com, ketiga pria Inggris itu baru saja selesai menggelar klinik pelatihan kepada siswa SIS. Pembinaan usia muda menjadi salah satu perhatian terbesar mereka. Di usia itulah pelatih bisa dengan mudah memasukkan ilmu-ilmu dasar sepak bola, dibanding saat mereka lebih dewasa.
Tapi ada yang lebih penting dari itu: meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatih.
"Kita butuh pelatih yang berpikir ke depan dan jumlahnya juga perlu diperhatikan. Di Inggris jumlah pelatih berpikiran ke depan yang berkualifikasi tidak sebanyak yang seharusnya jika dibandingkan dengan Spanyol dan Jerman. Jumlah berpengaruh, seperti yang saya katakan sebelumnya kalau ada 20 pelatih bagus bisa dapat 200 pemain bagus, tapi kalau cuma 6 maka cuma dapat 60 saja. Jumlahnya juga harus diperhatikan karena tidak mungkin pelatih mengawasi semua pemain.
"Saya sendirian misalnya, sulit memperhatikan 20 pemain, tapi kalau ada satu pelatih lagi maka pemain bisa lebih diperhatikan. Makanya jumlah itu penting, begitu juga kualitas dalam artian pelatih berkualifikasi yang pikirannya maju. Selalu belajar," jelas Taff yang punya lisensi A UEFA.
Bagaimana Jo, Taff, dan Ryan bisa sampai ke Indonesia? Adalah salah seorang pendiri Labbola, Ratu Tisha, yang mengajak mereka bertiga. Satu proyek besar akan dijalankan dalam waktu dekat yaitu pendidikan kepelatihan.
Pelatih klub, sekolah formal, dan tak ketinggalan sekolah sepak bola akan digandeng. Tisha mengungkapkan, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia juga akan diajak bekerja sama. Labbola sendiri bukan nama baru di sepak bola nasional. Merekalah yang mengurusi statistik pertandingan Liga Super Indonesia. Untuk pembiayaan proyek ini, Labbola berencana menggandeng sponsor.
Proyek ini akan dilihat perkembangannya dalam enam bulan ke depan. Harapannya, ada tanggapan positif sehingga bisa terus dilanjutkan.
"Negara ini diberkati gairah besar terhadap sepak bola, punya lingkungan yang mendukung pemain yang lapar (prestasi). Sama seperti Brasil, lingkungan, lapangan, juga kulturnya. Cuma butuh orang yang tepat untuk tepat untuk memberikan program pelatihan yang bagus, pembinaan pemain muda.
"Kami juga mendapat permintaan membantu India. Semua orang di seluruh dunia sedang memajukan sepak bola di negara mereka masing-masing. Sepak bola sudah seperti agama di dunia," tutur Taff.
"Dan saya yakin Indonesia tidak mau ketinggalan," sambung Ryan.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...