Thursday, March 12, 2015

TULEHU, Kampung Sepak Bola

CUACA di Pulau Ambon siang itu (6/3) terasa berbeda. Pasalnya, tidak seperti hari-hari biasanya yang basah oleh hujan, hari itu sangat cerah. Tidak ada awan yang menggantung di langit. Warga pun beraktivitas dengan nyaman. Termasuk warga Negeri (Desa) Tulehu di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Misalnya, yang dirasakan Salim Ohorela, 37, tukang ojek yang sehari-hari mangkal di mulut gang desa sepak bola itu. Bila seharian hujan turun, pasti tidak banyak orang bepergian yang bisa dia angkut.
’’Apalagi beta (saya, Red) sedang membutuhkan banyak uang. Beta perlu beli sepatu dan bola untuk anak laki-laki bungsu di rumah,’’ ujar Salim.
Salim adalah contoh betapa sepak bola begitu mewarnai kehidupan orang-orang di Tulehu. Peralatan bermain sepak bola seolah menjadi kebutuhan wajib yang harus ada di rumah. Sebab, hampir semua orang tua di sana berharap anak-anak laki-laki mereka kelak tumbuh menjadi pemain sepak bola hebat. Tidak terkecuali Salim yang menggadang-gadang putranya, Ridwan Ohorela, 9, untuk bisa mengikuti jejak para pesepak bola dari kampung itu yang banyak menghuni klub-klub anggota liga profesional.
Kecintaan orang Tulehu terhadap sepak bola memang bukan hal baru. Namun, olahraga paling populer sejagat itu semakin dalam menjadi bagian dari kehidupan warga desa tersebut setelah Tulehu dinobatkan sebagai kampung sepak bola Februari lalu. Karena itu, semakin banyak orang tua yang memutuskan jalur sepak bola sebagai jalan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.
Alhasil, lapangan bola yang biasanya hanya ramai bila ada turnamen antarkampung kini setiap hari selalu ramai. Anak-anak berebut dengan orang dewasa untuk bermain di satu-satunya lapangan sepak bola standar di sana, Lapangan Matawaru.
Kampung Tulehu sebenarnya memiliki tiga lapangan sepak bola. Dua lainnya adalah Lapangan Hurnala dan Darusalam. Namun, dua lapangan itu tidak standar. Kondisinya apa adanya.
Di sisi lain, Tulehu punya tiga sekolah sepak bola (SSB). Yaitu, SSB Tulehu Putera, Maehanu FC, dan Hurnala FC. Setiap SSB memiliki seratus siswa dari kelompok umur yang berbeda.
Kiprah mereka cukup baik di Maluku. SSB Maehanu FC, misalnya, belum lama ini keluar sebagai juara Piala Danone wilayah Maluku dan Maluku Utara. Mereka akan bermain dalam putaran nasional di Jakarta, Juni mendatang.
’’Sukses ini tidak lepas dari predikat kami sebagai kampung sepak bola,’’ kata Abdulrahman Ohorela, 40, pelatih SSB Tulehu Putera.
Menurut dia, warga Tulehu kini semakin bersemangat bermain bola. Para orang tua ramai-ramai mengantarkan anak mereka untuk berlatih di lapangan. ’’Ini adalah salah satu efek status kami sebagai kampung bola,’’ ujarnya.
Raja Tulehu Alibaba Tawainela juga tidak mau tertinggal dalam memajukan sepak bola di negerinya. Raja adalah sebutan untuk kepala desa di sana. Namun, seperti halnya raja di sebuah kerajaan, raja di Tulehu juga turun-temurun.
Sebagai tetenger bahwa desa yang dipimpinnya adalah kampung sepak bola, Alibaba mulai tahun ini menyelenggarakan Piala Raja Tulehu. Kejuaraan yang akan diselenggarakan pekan depan itu diikuti 16 klub dari beberapa daerah di Maluku Tengah.
’’Ini akan menjadi event tahunan. Rencananya, tim-tim dari seluruh Maluku ikut,’’ kata Alibaba saat ditemui di rumahnya yang asri.
’’Sebenarnya, ide menggelar event ini ada sejak lama. Namun, kami semakin mantap untuk mengeksekusi setelah ada predikat kampung bola,’’ paparnya.
Tidak hanya membuat turnamen, Alibaba juga punya sejumlah terobosan untuk merombak kampungnya agar benar-benar menjadi kampung sepak bola. Salah satunya, membuat peraturan bagi semua warga yang mapan secara ekonomi untuk menyumbangkan satu bola setiap tahun untuk Negeri Tulehu. Bola-bola tersebut kemudian akan digunakan untuk membantu sejumlah SSB di Tulehu.
Sebelumnya, pria berusia 49 tahun itu berencana mengeluarkan kebijakan, setiap 20 rumah harus difasilitasi dengan lapangan sepak bola. Namun, setelah dibicarakan dengan pihak saniri (pejabat negeri), ide tersebut dibatalkan. Sebab, wilayah kampung seluas 14,34 kilometer persegi itu sudah penuh oleh 19.307 jiwa.
Selain itu, Alibaba dan warganya akan mengubah desain tugu selamat datang di desa yang berhadapan langsung dengan Selat Lease tersebut. Tugu itu saat ini memiliki puncak berbentuk selongsong peluru. Nanti, bola raksasa dipasang untuk menggantikan peluru itu.
’’Biar kehidupan masyarakat di sini bisa lebih damai dan lebih bersemangat untuk bermain bola selamanya,’’ ujar ayah tiga anak tersebut.
Alibaba mengisahkan, ada pengalaman kurang enak dengan tugu selamat datang yang berbentuk peluru tersebut. Selesai dibangun akhir 1998, pada 1999, pecah kerusuhan bernuansa SARA di sana.
Ke depan, di tugu selamat datang tersebut, diabadikan nama-nama pesepak bola hebat asal Tulehu. Kriterianya, pesepak bola itu harus masuk timnas. Baik timnas senior maupun kelompok umur. Sejauh ini, sekitar 300 pemain asal Tulehu menembus skuad Merah Putih.
’’Itu cara kami menghargai mereka yang telah mengharumkan nama negeri ini. Karena merekalah, banyak orang yang akhirnya mengenal Tulehu,’’ ungkap Alibaba.
Memang, sudah banyak pemain nasional yang lahir dari Tulehu. Muhtadi Lestaluhu adalah generasi pertama yang lolos timnas pada era 1980-an. Lalu, ada Khairil Anwar Ohorela, Imran Nahumaruri, dan Rachel Tuasalamony yang top pada 1990-an sampai awal 2000-an.
Saat ini, masih ada 17 pemain asal Tulehu yang memperkuat semua level timnas. Sebut saja Yusnan Ramadau di timnas U-14. Kemudian, Alwi Slamat, Latif Tuharea, Rizal Lestaluhu, dan Rifad Marasabesy yang membela timnas U-16. Di timnas U-19 juga tidak kalah banyak. Ada Ricky Ohorela, Raan Lestaluhu, Irfandi Alzubeid, dan Al Qomar Tehupelusury. Mereka melengkapi nama-nama pemain asal Tulehu di skuad timnas U-23 yang dihuni Hendra Adi Bayauw dan Abduh Lestaluhu.
Di timnas senior, ada Alfin Tuasalamony, Hasyim Kipuw, dan Ramdani Lestaluhu. ’’Sepak bola di sini memang sudah menjadi hobi setiap warga dan semua bermain bola sejak lahir,’’ ujar Muhtadi Lestaluhu, 60.
Menurut pemain timnas era 80-an itu, sepak bola telah menjadi identitas warga Tulehu. Sampai-sampai, saat upacara aqiqohan anak-anak laki-laki di Tulehu, warga harus melengkapi dengan rumput yang diambil dari Lapangan Matawaru, lapangan sepak bola legendaris di kampung itu.
’’Jadi, di sini (Tulehu, Red) sepak bola sudah seperti agama kedua bagi kami,’’ tandasnya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...