Monday, November 7, 2016

Musuh Terbesar Sepak Bola Usia Dini adalah Orangtua dan Pengurus SSB

Tim putra Indonesia, ASIOP Apacinti, menjuarai Gothia Cup kategori U-15 usai menumbangkan wakil tuan rumah, IF Elfsborg, dengan skor 3-1 di Gamla Ullevi, Swedia, Sabtu (23/7/2016).
JAKARTA, JUARA.net
Dalam situasi terpuruk, muncullah kemudian berbagai turnamen, dimulai dari level kecil hingga kehadiran ISC yang melibatkan bukan saja klub profesional, juga yang amatir dan kelompok umur.
Walau kondisinya belum ideal, namun hal tersebut dapat disebut sebagai usaha tahap paling bawah untuk berupaya bangkit dari situasi terpuruk.

Lalu, setelah sepak bola Indonesia tanpa kompetisi resmi dan situasi di federasisepak bola dan pemerintah masih memanas, apa yang harus kita lakukan agar bisa mengeluarkan kemampuan terbaik bakat-bakat sepak bola anak Indonesia?
Insan sepak bola nasional harus tetap fokus pada apa yang dicita-citakan. Orangtua juga harus iklas dan terus memberi semangat kepada anak-anaknya.
Para pengurus sekolah sepak bola (SSB) tetap melakukan pembinaan kepada murid-muridnya, bukan memburu hasil semata.
Agar bakat sepak bola anak-anak kita bisa muncul ke permukaan, pelatih wajib fokus pada pengembangan ilmu kepelatihan dan melatih dengan kemampuan terbaik.
Demikian juga pada pemain sepak bola, mereka harus tetap berkarya tanpa melukai nilai fair play.
Tinggalkan kebiasaan mencari kambing hitam ketika menerima kekalahan, hentikan menuding wasit atau faktor lain ketika gagal menang.
Kita harus membangun kebiasaan memfokuskan pada tugas  masing-masing. Saya yakin, dengan menjaga sikap seperti itu, hasilnya tak jauh dari kerja keras yang telah kita lakukan.
Sampai saat ini, saya percaya bakat anak-anak Indonesia dalam bermain sepak bola sangat besar. Bahkan, bila harus dibandingkan dengan talenta anak-anak di negara lain, kita tidak kalah hebat.
Akan tetapi, untuk menjadi pemain hebat dan bagus tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Ada empat faktor dalam sepak bola yang harus dimiliki untuk berkembang, yakni teknis (individu, unit, tim), taktik (individu, united, tim), serta fisik dan mental.
Agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di Asia, termasuk tim elite seperti Korea Selatan, Jepang , dan sejumlah negara di Timur Tengah, alangkah baiknya bila bakat besar anak-anak Indonesia itu harus selalu mendapat dukungan.
Saya memilih tiga faktor dukungan yang dibutuhkan untuk itu.
Pertama, pemain hebat harus dibimbing dan dilatih oleh pelatih hebat pula. Karena itu, Indonesia membutuhkan coach yang berkualitas. Mari kita ciptakan pelatih-pelatih yang baik di Tanah Air.
Kedua, pemain baik juga lahir karena mendapatkan dukungan dari fasilitas yang baik, seperti lapangan, kesehatan, psikologi, nutrisi, pendidikan, dan lain sebagainya.
Ketiga, pesepak bola yang baik dipengaruhi oleh latar belakang si pemain, di antaranya adalah gen dari orangtua, kebiasaan di tempat dia bertumbuh dan berkembang, serta jam terbang selama si anak berada di klub sepak bola.

Dengan segala bakat anak-anak Indonesia dan dukungan yang diberikan, tentu kita wajib memantau bibit pesepak bola hebat agar tidak luput dari pantauan.
Fakta yang harus dihadapi adalah Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan. Saking besarnya wilayah kita, Indonesia seperti sebuah benua. Itulah sebabnya pengembangan sepak bola tidak boleh terpusat hanya di Jakarta.
Bila benar ingin membawa sepak bola Indonesia berprestasi, kita wajib menggelar dan menjaga kompetisi yang bertahap di setiap daerah. WAJIB!
Saya juga berharap kita mengembangkan beberapa distrik pembinaan sepak bola. Jangan lupa juga untuk memantau setiap kompetisi tersebut dengan melibatkan dan menugaskan pelatih-pelatih terbaik di daerah atau distrik tersebut.
Hal ini perlu dilakukan agar kita tidak kehilangan bibit-bibit potensial pesepak bola usia dini yang kerap muncul di berbagai daerah di Tanah Air.
Kenapa kita perlu menjaga bakat-bakat potensial tersebut? Karena musuh terbesar sepak bola usia dini di Indonesia adalah orangtua dan pengurus sekolah sepak bola (SBB)
Pemaksaan kehendak dan hanya berorientasi pada hasil masih kerap terlihat di berbagai SSB dan kejuaraan usia dini.
Mereka lupa akan dampak negatif yang menimpa anaknya bila melakukan pemaksaan tersebut.
Pertama, bila si anak kuat untuk melawan kehendak orangtua atau pengurus SSB, dia akan meninggalkan sepak bola. Kita kehilangan bakat si anak.
Kedua, seandainya si anak tidak kuat melakukan perlawanan, ia akan memaksakan sesuatu di luar batas kemampuannya. Hal ini bisa berakibat jelek terhadap dirinya, seperti bermain kasar, tidak sportif, hingga sering menerima kartu merah di pertandingan.
Tanpa disadari, pemaksaan pada hasil juga berdampak pada orangtua, pelatih, atau pengurus SSB.
Karena takut kalah, mereka akan mencari pemain dari luar tim untuk mencari kemenangan di sebuah pertandingan. Pelatih atau pengurus lupa pada potensi anak asuh sendiri yang sudah mereka latih.
Ketakutan akan kekalahan membawa pikiran pada hal negatif, seperti melanggar pembatasan usia yang seharusnya menjadi salah satu alat membangun sepak bola usia dini.

Sejak menekuni cabang olahraga populer ini, saya menemukan beberapa karakter pesepak bola yang menjadi kekuatan di setiap daerah. Hal seperti ini harus diperhatikan sejak anak-anak masih remaja.
Di Sumatera, misalnya, pesepak bola di sana berkarakter pantang menyerah namun emosional.
Coba perhatikan anak-anak di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI. Karakter pesepak bola usia dini di daerah ini cenderung lebih tenang, cuma terkesan agak manja.
Jawa Timur? Sejak remaja, saya bisa menyebut pesepak bola di daerah ini punya karakter sepak bola yang stylish dan keras.
Lalu, pesepak bola di Sulawesi berkarakter keras dan emosional. Dari Ambon dan Papua menonjol dengan skill serta emosional.
Belakangan, dalam lima tahun terakhir saya melihat bakat-bakat alami masih banyak dimiliki oleh Indonesia wilayah Timur serta sebagian Jawa Tengan dan Timur, walau ada juga beberapa dari Sumatera dan Sulawesi.
Setelah kita memiliki dan menjaga aset sepak bola sejak usia dini, apa yang perlu dilakukan agar gairah besar masyarakat Indonesia terhadap sepak bolaberbuah prestasi?
Tentu ada banyak hal yang perlu kita lakukan. Saya mencoba menyebut 6 hal yang wajib dilakukan agar sepak bola Indonesia tidak sekadar gairah tanpa prestasi.
Pertama, kita harus memiliki kompetisi yang berkesinambungan.
Kedua, meningkatkan sumber daya manusia di sepak bola, baik wasit, pelatih, dan manajemen organisasi sepak bola hingga lapisan terbawah.
Hal ketiga yang wajib kita sediakan adalah sarana dan prasarana yang layak, mulai dari stadion yang baik dan sesuai standar, lapangan terbuka yang bisa diakses masyarakat umum dengan harga terjangkau.
Keempat, sepak bola harus diperkenalkan kepada anak-anak sejak sekolah dasar. Bila perlu, cabang olahraga ini menjadi program pokok dari kurikulum sekolah.
Lalu, pembinaan dan komunikasi terhadap orangtua tentang pentingnya nutrisi dan psikologi anak menjadi faktor kelima.
Yang tak kalah penting, aspek keenam, adalah dukungan penuh dari pemerintah terhadap program pembinaan, kepelatihan, dan prasarana serta program PSSIselaku induk sepak bola di Tanah Air. @tumena_yeyen

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...